Suasana Menara Eiffel di Prancis yang telah kembali dibuka. Foto: Pascal Rossignol/REUTERS

Lebih dari 100 ribu orang di seluruh Prancis melakukan protes terhadap rencana pemerintah yang akan lebih membatasi hak-hak bagi warga yang belum divaksin COVID-19. Rencana yang disampaikan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron itu membuat marah simpatisan ‘gerakan antivaksin’.

Jumlah demonstran ini lebih banyak 4 kali lipat dibandingkan protes yang dilakukan pada 18 Desember 2021 lalu. Saat itu hanya sekitar 25 ribu orang yang berkumpul menyuarakan protes terhadap isu yang sama.

Protes kali ini dilayangkan, menyusul Macron hendak membuat aturan bagi mereka yang dapat makan di luar rumah, bepergian dengan kereta antar kota, atau menghadiri kegiatan kultural, harus sudah divaksin. Mereka yang belum divaksin, dilarang.

Pejabat Kementerian Dalam Negeri Prancis mengatakan 105.200 orang berpartisipasi dalam protes hari Sabtu (9/1) di seluruh Prancis itu. 18.000 orang di antaranya menggelar aksi di ibu kota Paris. Polisi melaporkan 10 penangkapan dan tiga petugas terluka ringan.

Di tempat lain ada 24 penangkapan yang dilakukan terhadap demonstran. Di sisi lain, ada tujuh petugas polisi mengalami luka ringan.

Di antara demonstrasi yang lebih besar, sekitar 6.000 demonstran turun ke jalan di Toulon, sementara di Montpellier polisi menggunakan gas air mata selama bentrokan dengan pengunjuk rasa.

Prancis mencatat 303.669 kasus virus corona baru pada Sabtu (9/1) di tengah meningkatnya tekanan pada rumah sakit.

Para pengunjuk rasa Paris, banyak dari mereka membuka masker, menerjang dingin dan hujan mengacungkan papan bertuliskan kata “kebenaran” dan “Tidak untuk vaksin”.

Macron sendiri mengatakan pada hari Jumat (7/1) bahwa dia sepenuhnya mendukung pernyataan kontroversial yang dia buat, ketika dia bersumpah untuk ‘membuat kesal’ orang-orang yang tidak divaksinasi COVID-19 sampai mereka menerima suntikan.

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *