Ekskavator menumpuk batu bara di area penyimpanan di Pembangkit Listrik Indonesia di Suralaya, di provinsi Banten. Foto: Reuters

Kebijakan larangan ekspor batu bara yang diberlakukan Pemerintah Indonesia per 1 Januari 2022 menuai beragam reaksi dari negara tujuan ekspor.

Ada yang keras menolak, namun ada pula yang menanggapinya santai. Berikut kumparan merangkum beda reaksi China, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel) soal larangan ekspor batu bara RI.

Jepang Minta Larangan Ekspor Batu Bara Dicabut

Penolakan pertama datang dari Negeri Sakura. Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji menyurati Menteri ESDM Arifin Tasrif. Dia meminta agar pemerintah Indonesia segera mencabut larangan ekspor batu bara, termasuk ke negaranya.

Menurut Kenji, kebijakan ini berdampak pada negaranya karena diputuskan secara tiba-tiba. Apalagi selama ini Jepang mengimpor 2 juta ton batu bara per bulannya dari Indonesia untuk industri di negaranya, termasuk pembangkit listrik dan manufaktur.

Belum lagi, saat ini di Jepang tengah musim dingin. Kebutuhan listrik semakin meningkat. Kondisi ini membuat investor yang tergabung dalam Jakarta Japan Club (JJC) khawatir.

“Karena itu, saya ingin meminta segera pencabutan larangan ekspor batu bara ke Jepang,” kata dia dalam surat ke Arifin Tasrif yang diterima kumparan, Kamis (6/1).

Tongkang batu bara terlihat sedang mengantri untuk ditarik di sepanjang sungai Mahakam di Samarinda, provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Kenji menegaskan, seharusnya pemerintah Indonesia tidak perlu melarang ekspor batu bara, karena Jepang selama ini mengimpor komoditas emas hitam ini dengan kalori tinggi (High Caloricif Value/HVC). Sedangkan pembangkit listrik PLN menggunakan batu bara berkalori rendah (Low Caloricif Value/LCV).

Masalah lain yang timbul dari kebijakan pelarangan ekspor batu bara, kata Kenji, adalah tidak bisa berlayarnya kapal-kapal besar Jepang di pelabuhan Indonesia. Setidaknya ada lima kapal pengangkut batu bara yang menunggu berangkat ke Jepang saat ini.

Kenji ingin Arifin Tasrif mempertimbangkan permohonan Jepang atas masalah ini. Apalagi hubungan ekonomi kedua negara sudah terjalin baik selama ini.

Korea Selatan Juga Layangkan Protes

Setelah Jepang, kini Korea Selatan juga melayangkan protes, meminta pemerintah segera mencabut larangan tersebut. Menteri Perdagangan Korea Selatan Yeo Han-koo langsung mengadakan pertemuan darurat dengan Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi terkait masalah ini. Rapat tersebut dilakukan pada Jumat (7/1) secara online.

“Mendag Yeo menyampaikan keprihatinan pemerintah atas larangan ekspor batu bara Indonesia dan sangat meminta kerja sama ke pemerintah Indonesia agar pengiriman batu bara segera dimulai kembali,” kata Kementerian Perdagangan Korea Selatan dalam keterangan tertulisnya dikutip dari Yonhap News Agency, Sabtu (8/1).

Menurut Mendag Yeo, dalam rapat tersebut Mendag Lutfi mengatakan Pemerintah Indonesia sangat menyadari kekhawatiran Korea Selatan terkait kebijakan ini. Indonesia akan segera mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini.

Selain itu, kedua menteri juga sepakat pentingnya kerja sama dalam menjaga pasokan global. Karena itu, upaya bilateral kedua negara akan ditekankan agar rantai pasokan komoditas seperti batu bara stabil.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Korea Selatan masuk dalam 10 negara tujuan ekspor batu bara Indonesia. Pada 2020, Negeri Ginseng itu tercatat mengimpor 24,7 juta ton batu bara dari Indonesia. Karena itu, kebijakan pelarangan ekspor batu bara ini membuat mereka panik.

China Bersikap Santai

Berbeda dengan Jepang dan Korsel, China yang merupakan importir batu bara terbanyak dari Indonesia santai menghadapi larangan ekspor batu bara. Alasan Negeri Tirai Bambu tak panik dengan kebijakan ini karena mereka memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia, termasuk kapasitas produksinya.

Dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (8/1), analis Orient Futures memperkirakan kapasitas produksi batu bara China mencapai sekitar 4,58 miliar ton pada 2022, naik dari 4,33 miliar dibandingkan tahun lalu. Kemampuan tersebut termasuk 230 juta ton kapasitas produksi yang dilanjutkan karena sempat krisis listrik tahun lalu.

Sementara itu, berdasarkan data dari Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, stok batu bara di utilitas yang berada di wilayah pesisir China mencapai 33 juta ton pada Sabtu pekan lalu. Jumlah ini 57 persen lebih banyak daripada periode yang sama tahun lalu.

Bongkar muat batu bara di kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh. Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/

Para penambang China memang menggenjot produksinya karena sempat menghadapi krisis listrik pada akhir 2021. Karena itu, saat ini mereka memiliki stok yang cukup banyak.

Di sisi lain, konsumsi batu bara harian oleh pembangkit listrik China saat ini stabil dibandingkan tahun lalu yang mencapai 2,2 juta hingga 2,3 juta ton. Konsumsi batu bara ini juga diperkirakan akan terus turun dalam beberapa minggu ke depan ketika pabrik tutup karena ada perayaan Tahun Baru Imlek selama seminggu. Apalagi, Beijing telah memerintahkan pengurangan aktivitas menyambut Olimpiade Musim Dingin.

Meski santai hadapi larangan ekspor batu bara dari Indonesia, para pengusaha di sana khawatir akan terjadi penurunan harga komoditas emas hitam ini di pasar global. Musababnya, produksi batu bara dari Indonesia diperkirakan akan melimpah di pasar global setelah pasokan ke pembangkit listrik PLN aman.

“Hampir dapat dipastikan bahwa kita akan melihat kelebihan pasokan dan harga batu bara akan segera jatuh jika ledakan produksi dalam negeri berlanjut,” kata seorang pedagang batu bara yang berbasis di Beijing.

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *