Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Ahmad Basarah kembali mengingatkan upaya masuknya ideologi asing ke Indonesia. Menurutnya ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara tidak dapat dibiarkan, pemerintah bersama seluruh komponen bangsa mesti bahu-membahu untuk mengatasinya.

Hal tersebut disampaikan Basarah dalam pidato saat pembukaan Kongres IV PA GMNI di Bandung, Jawa Barat, Senin (6/12). Acara yang digelar secara hybrid itu dibuka oleh Presiden Jokowi lewat konferensi video dari Istana Negara, Jakarta.

“PA GMNI mendukung kebijakan Presiden Jokowi yang telah berupaya melawan ideologi transnasional dengan salah satu kebijakannya menetapkan Hari Santri Nasional dan Hari Lahir Pancasila. Kebijakan presiden tersebut sebagai simbol persenyawaan antara Islam dan kebangsaan sebagaimana kesepakatan awal para pendiri bangsa,” kata Basarah dalam keterangannya.

Dalam kongres yang mengusung tema “Nasionalisme Menjawab Tantangan Zaman”, Basarah juga juga mengapresiasi pembentukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai organ negara yang menjadi leading sector dalam pembinaan mental ideologi bangsa. Menurutnya keputusan membentuk BPIP, telah menunjukkan konsistensi pemerintah dalam melaksanakan dan mengamalkan ideologi negara.

Basarah mengatakan nasionalisme menjadi penting untuk mengelola loyalitas primordialisme agar tidak berada di atas loyalitas nasional. Selain itu, nasionalisme dapat dijadikan sebagai kekuatan pertahanan nasional terhadap ancaman yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Maka itu, menurut Basarah, PA GMNI harus bisa melakukan elaborasi, adaptasi dan kontekstualisasi nasionalisme agar tidak berhenti sebatas nasionalisme romantik.

“Sebuah bangsa akan menjadi bangsa yang maju jika bangsa tersebut mampu berpegang teguh pada falsafah dan budaya bangsa itu sendiri. Bangsa Indonesia juga akan menjadi bangsa yang maju jika kita tetap berpegang teguh pada falsafah dan budaya bangsa kita sendiri,” ujar Basarah.

Menurut pria yang menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI itu, inti dari nasionalisme Indonesia adalah kesadaran tentang identitas, kepentingan, serta tujuan nasional. Diperlukan hadirnya persatuan nasional yang kokoh di antara semua komponen bangsa agar dapat menjawab setiap tantangan zaman yang datang silih berganti.

Lebih jauh Basarah mengatakan, PA GMNI akan terus mendorong adanya persatuan dan sinergitas nasional yang semakin kokoh. Secara khusus antara Golongan Kebangsaan dan Golongan Islam yang pada tanggal 18 Agustus 1945 telah mengikatkan diri dalam perjanjian luhur para Pendiri Bangsa, menjadikan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia Merdeka.

Hal ini, kata Basarah, sebagaimana telah direkonstruksikan kembali secara simbolik oleh Presiden Jokowi melalui Keppres Hari Santri dan Keppres Hari Lahir Pancasila pada tahun 2015 dan 2016 yang lalu.

“Jika antara Golongan Islam dan Golongan Nasionalis bersama dengan kekuatan TNI/Polri, kokoh dan saling bersinergi, maka bukan hanya segala tantangan dan ancaman yang datang dapat kita atasi secara bersama, tetapi juga bangsa kita akan dapat melaksanakan pembangunan nasionalnya dengan sebaik-baiknya,” kata Basarah.

Hadir di lokasi kongres Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Sekretaris Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Imran, Ketua DPD PDI Perjuangan Jabar Ono Surono, mantan Ketua Presidium PA GMNI Palar Batubara, dan Ketua Dewan Ideologi yang juga Hakim Konstitusi Arif Hidayat. Selain itu juga ada Ketua Dewan Pakar Theo L Sambuaga, Sekretaris Jenderal DPP PA GMNI Ugik Kurniadi, Ketua DPD PA GMNI Jabar Abdy Yuhana.

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *