Seorang warga dengan mengenakan masker berjalan di depan mural imbauan mengenakan masker dari lintas agama di kawasan Jakarta Timur. Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO

Pakar epidemiologi UGM dr Riris Andono Ahmad mengingatkan kemungkinan gelombang ketiga COVID-19 pada akhir 2021 hingga awal Januari 2022. Kapan gelombang ketiga ini terjadi tergantung dari kondisi masyarakat.

“Tinggal pertanyaanya itu, kapan terjadi? dan seberapa tinggi ini? sangat tergantung dengan situasi yang berkembang di masyarakat,” kata Riris dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/10).

Kondisi yang dimaksud adalah bagaimana mobilitas, interaksi sosial, dan kepatuhan dalam implementasi prokes 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak) di masyarakat. Menurutnya, tingkat kepatuhan di masyarakat ini menjadi faktor yang menentukan terjadi dan tidaknya gelombang ketiga COVID-19.

Riris yang juga Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini menegaskan virus corona masih ada. Sementara di sisi lain ada orang yang tidak memiliki kekebalan.

Petugas kesehatan memberikan dosis vaksin kepada seorang anak di halaman Gembira Loka Zoo Yogyakarta. Foto: Dok. Istimewa

Memang saat ini sudah banyak orang yang disuntik vaksin corona. Akan tetapi seiring waktu, kekebalan yang didapat sebelumnya pun makin menurun.

“Jadi tidak hanya satu kali gelombang, tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global,” jelasnya.

Menurutnya, cakupan vaksinasi tinggi juga telah diupayakan sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara lain. Namun, mereka juga tetap harus kembali berjuang akibat varian Delta.

Cakupan Vaksinasi Harus Tinggi

Saat ada varian Delta yang memiliki tingkat penularan tinggi, maka membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam sebuah populasi.

Sebelum ada varian Delta, kekebalan kelompok dapat dicapai ketika 70 persen dalam populasi sudah divaksin. Ketika ada varian Delta, cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80 persen.

“Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektivitas 100 persen,” terangnya.

Presiden Jokowi tinjau vaksinasi di Banjarmasin. Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Dengan kondisi tersebut, Riris mengatakan, 80 persen populasi masyarakat Indonesia atau 230 juta penduduk harus divaksin. Pelaksannannya pun dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan untuk menciptakan kekebalan kelompok.

“Ini sulit, misalnya sanggup pun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang,” jelasnya.

Warga mencuci tangan di area cuci tangan untuk publik di depan Museum Sonobudoyo, DI Yogyakarta, Senin (30/3/2020). Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

Maka dari itu, masyarakat saat ini diminta tetap waspada dan tidak lengah. Meski sekarang kondisi Indonesia membaik akan tetapi pandemi belum usai. Risiko penularan pun masih ada.

“Aktivitas dilonggarakan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun pelonggaran ini berisiko penularan akan meningkat lagi,” jelasnya.

Selain masyarakat tetap harus patuh prokes 3M. Pemerintah juga harus terus mengupayakan 3T (testing, tracing, dan treatment).

———————————

Ikuti survei kumparan dan menangi e-voucher senilai total Rp 3 juta. Isi surveinya sekarang di kum.pr/surveinews

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *