Ilustrasi Bukalapak.
Foto: Shutter Stock

Rencana e-commerce Bukalapak untuk segera melantai di pasar modal makin santer terdengar. Berdasarkan dokumen mini expose yang diterima kumparan, startup tersebut bakal melakukan go public atau Initial Public Offering (IPO) pada 29 Juli 2021 mendatang.

Menariknya, Bukalapak bakal jadi perusahaan publik dalam kondisi keuangan yang masih minus alias merugi saat IPO. Di 2020, Bukalapak tercatat masih rugi Rp 168 miliar, mengecil dari kerugian di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 1,25 triliun.

Lalu apakah saham Bukalapak layak untuk dikoleksi?

Analis RHB Sekuritas, Michael Wilson Setjoadi mengatakan, meski belum membukukan laba, namun saham Bukalapak tetap layak koleksi. Sebab perusahaan startup seperti Bukalapak mempunyai prospek yang cukup menjanjikan untuk jangka panjang.

“Sama seperti perusahaan tech startup lainnya, investor pasti melihat untuk long term,” ujar Michael kepada kumparan, Kamis (24/6).

Menurut Michael, Bukalapak mempunyai niche market yaitu target pasar yang lebih spesifik dan unik. Selain itu e-commerce tersebut juga mengembangkan warung pintar B2B fullfilment network dengan total lebih dari 500 ribu warung.

“Ini yang menjadi value Bukalapak dari GMV yang di kemudian hari bisa di-monetize cukup besar,” ujarnya.

Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya mengatakan, saham Bukalapak menarik untuk dikoleksi. Menurutnya, investor tidak melulu melihat fundamental seperti bottom line sebagai pertimbangan dalam berinvestasi. Namun aspek prospek juga bisa dijadikan acuan.

“Kita kan lihatnya bukan bottom line tapi prospek,” ujar Christine.

Menurutnya, Bukalapak memiliki prospek yang baik sebab target marketnya sedikit berbeda dengan e-commerce lainnya. “Jadi harusnya prospektif karena memiliki different business model,” ujarnya.

Adapun menurut Christine, karena masih merugi nantinya harga saham Bukalapak tidak ditentukan dari kinerja bottom line. Namun penentuan harga sahamnya akan mengacu pada top line growth alias total nilai penjualan atau pendapatan perusahaan yang dihasilkan selama periode tertentu.

Menurut Christine, perhitungan ini sangat lazim digunakan khususnya bagi perusahaan teknologi maupun startup yang akan go public. “(Penentuan harga saham) Liat dari growth top line. Sama aja kayak tech companies di luar (negeri) dan startup,” tandasnya.

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *