Relawan dari asosiasi masakan ekonomi Circolo San Pietro, dan relawan SOdM (Sovereign Order of Malta) membagikan makanan kepada para tunawisma di Via della Lungaretta. Foto: Andreas Solaro/AFP

kumparan merangkum sejumlah kabar corona dunia pada Rabu (9/6). Mulai dari rekor kematian harian akibat COVID-19 di India hingga Amerika Serikat menyumbang 500 juta dosis vaksin Pfizer.

Penularan virus corona masih terjadi meski mulai ada penurunan. Tercatat kasus positif global kini mencapai 175.339.769 juta orang di mana 3.780.398 pasien meninggal dunia.

Amerika Serikat, India dan Brasil masih menjadi tiga negara teratas yang terdampak parah pandemi COVID-19. Jumlah kasus di tiga negara itu kini sudah di atas 16 juta jiwa.

Berikut kumparan rangkum kabar corona dunia:

Orang-orang menguburkan jenazah COVID-19 di pemakaman di New Delhi, India, Jumat (16/4). Foto: Danish Siddiqui/REUTERS

Kematian Harian COVID-19 di India Pecahkan Rekor Dunia

Kabar buruk datang dari India. Pada Kamis (10/6), mereka mencatatkan rekor kematian harian COVID-19 tidak cuma di India, namun di seluruh dunia.

Dalam 24 jam, muncul 6.148 kematian akibat COVID-19. Angka tersebut didapat usai negara bagian Bihar di timur India merevisi jumlah kematian.

Dinas Kesehatan Negara Bagian Bihar menyatakan, setelah direvisi total kematian terkait COVID-19 di wilayahnya melebihi 9.400 orang. Jumlah tersebut merupakan perhitungan dari sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020 lalu.

Proses pemakaman jenazah COVID-19 di pemakaman di New Delhi, India, Jumat (16/4). Foto: Danish Siddiqui/REUTERS

Sebelumnya, Bihar menyebut total kematian di wilayahnya hanya 5.400. Jumlah baru didapat usai mereka memasukkan data kematian dari warga yang meninggal di rumah dan rumah sakit swasta.

Bihar merupakan salah satu negara bagian terbesar di India. Bihar juga wilayah paling miskin di negeri itu.

Dengan revisi angka dari Bihar, total sebanyak 359.676 warga di seluruh India meninggal karena terjangkit COVID-19.

Sementara itu, kasus COVID-19 di India berada di angka 29,2 juta. Di hari yang sama muncul 94 ribu kasus baru.

Aplikasi paspor COVID-19 terlihat di layar ponsel, di Kopenhagen, Denmark. Foto: Signe Goldmann/via REUTERS

Parlemen Eropa Setujui Penggunaan Paspor Vaksinasi Digital

Parlemen Eropa memberikan persetujuan akhir penggunaan sertifikat digital COVID-19 atau yang kerap disebut paspor vaksin. Aplikasi smart phone ini bakal menjadi barang wajib bagi para warga Eropa yang ingin bepergian ke wilayah Uni Eropa.

Rencana paspor vaksin akan mulai berlaku pada 1 Juli 2021. Siapa saja yang sudah punya sertifikat virtual vaksinasi tersebut bisa bebas berkunjung ke negara Eropa lainnya tanpa karantina dan tes tambahan.

Pengesahan paspor vaksin dilakukan dalam dua pemungutan suara di Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis pada Rabu (9/6/2021). Pada kesempatan tersebut, anggota parlemen Eropa juga sukses menyetujui kesepakatan yang mewajibkan negara anggota tidak menyertakan aturan tambahan bagi pemegang paspor.

“Negara anggota kini harus memberikan persetujuannya pada aplikasi ini, yang sudah dipandang sebagai formalitas,” ucap keterangan Parlemen Eropa.

Aplikasi paspor COVID-19 terlihat di layar ponsel, di Kopenhagen, Denmark. Foto: Signe Goldmann/via REUTERS

Saat kebijakan paspor vaksin mulai berlaku, semua negara Uni Eropa harus mengakui keberadaan sertifikat daring itu. Sertifikat akan dikeluarkan di setiap negara anggota bukan terpusat di satu negara.

Sertifikat itu berisi QR code beserta fitur pengamanan lain. Yang bisa memperoleh sertifikat daring ini adalah setiap individu yang sudah disuntik vaksin.

Parlemen Uni Eropa menyatakan, hanya warga yang mendapat vaksin diizinkan oleh Badan Obat-obatan Eropa (EMA) yang bisa mendapat sertifikat ini.

Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock

Politikus Lebanon Beli Suara Pakai Vaksin COVID-19

Politikus Lebanon menemukan cara untuk membeli suara jelang pemilu 2022 mendatang. Mereka tak lagi menggunakan uang demi mendapat suara pemilih.

Akibat krisis, hampir seluruh sendi perekonomian di Lebanon terdampak. Krisis makin meluas akibat pandemi COVID-19 yang menghantam eks koloni Prancis tersebut.

Di tengah rangkaian krisis, Pemerintah Lebanon malah bersikeras tetap menggelar pemilu tahun depan. Politikus-politikus yang bermoral bobrok terpaksa putar otak demi membeli suara pemilih.

Uang tak punya, tapi kekuasaan dan pengaruh ternyata dipakai segelintir politikus untuk mempertahankan kekuasaan. Suara warga dibeli bukan lagi dengan uang, tapi ditukar dengan vaksin.

Praktik itu dibongkar oleh salah seorang anggota Komite Vaksinasi Nasional di Lebanon. Dia mau berbicara dengan syarat anonim.

“Kekuatan politik mencoba secara langsung maupun tidak untuk membuat mereka jadi bagian dari kesetaraan, cara ini dipakai dengan kampanye vaksin yang dianggap sebagai investasi menguntungkan (menjelang pemilu),” ucap sumber tersebut.

Pejabat Lebanon menghitung suara pemilihan parlemen pertama Lebanon ada 6 Mei 2018. Foto: ANWAR AMRO/AFP

Sebagai negara yang masuk ke dalam klasifikasi miskin, Lebanon mendapat pertolongan dari berbagai badan internasional. Mereka diberi vaksin gratis oleh pabrikan Pfizer dan AstraZeneca.

Lebanon sudah memulai vaksinasi massal sejak Februari 2021. Namun, proses pemberian vaksin sangat lamban.

Fakta ini dipakai sejumlah politikus untuk memberikan vaksin secara gratis pada warga. Imbalannya adalah suara warga itu sendiri pada pemilu 2022 mendatang.

Politikus tersebut tidak memakai vaksin pemberian AstraZeneca dan Pfizer. Kebanyakan dari mereka pergi ke pemasok swasta yang menyediakan vaksin Sputnik V asal Rusia.

Seorang wanita memberikan suaranya dalam pemilihan legislatif pertama Lebanon di Zahle, Lebanon, pada Mei 2018. Foto: Haitham Mussawi/AFP

Lantaran setengah populasi Lebanon hidup di bawah garis kemiskinan, tawaran vaksin gratis sangat menggiurkan bagi mereka. Bahkan mereka menganggap dapat divaksin lebih dulu adalah kemewahan.

Sebab, dua dosis vaksin Sputnik V di Lebanon dihargai USD 38 atau setara Rp 541 ribu. Harga tersebut bagi warga Lebanon terlampau mahal. Sama seperti sepertiga upah minimum di Lebanon.

Seorang warga Lebanon, Firas, mengaku sudah mendaftar mendapat vaksin gratis dari pemerintah.

Namun, saat seorang politikus menawarkan vaksin gratis untuknya dan istri, maka Firas tak ragu untuk menerima tawaran itu.

Ilustrasi vaksin corona Pfizer-BioNTech. Foto: BioNTech SE 2020/via REUTERS

AS Akan Sumbangkan 500 Juta Dosis Vaksin Pfizer ke 100 Negara

AS berencana menyumbangkan 500 juta dosis vaksin COVID-19 Pfizer ke hampir 100 negara di dunia. Sumbangan ini akan disalurkan pemerintahan Biden itu secara bertahap selama dua tahun ke depan.

Seorang sumber tepercaya mengatakan AS kemungkinan akan membagikan 200 juta dosis sumbangannya tahun ini. Sementara 300 juta dosis sisanya akan didistribusikan pada paruh awal 2022.

Kata sumber, donasi itu telah dinegosiasikan selama empat minggu terakhir oleh koordinator respons COVID-19 Gedung Putih, Jeff Zients, dan tim gugus tugas virus corona. Mereka akan menyumbangkannya ke 92 negara berpenghasilan rendah dan Uni Afrika.

Lebih rinci, 500 juta dosis Pfizer tersebut akan dihibahkan melalui COVAX. Selama ini COVAX telah mendistribusikan vaksin COVID-19 ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI).

Ilustrasi vaksin corona Pfizer-BioNTech. Foto: Kay Nietfeld/Pool via Reuters

Gedung Putih dan Pfizer masih menolak berkomentar soal donasi tersebut. Tetapi menurut sumber, Presiden AS Joe Biden akan mengumumkan donasi ini pada Kamis (10/6) dalam pertemuan negara-negara terkaya di dunia, KTT G7, di Inggris.

AS telah membagikan setidaknya satu dosis suntikan untuk sekitar 64 persen dari populasi orang dewasa di negaranya, dan telah mulai memvaksinasi remaja. Sementara negara-negara lain seperti Brasil dan India sedang berjuang untuk mendapatkan vaksin.

Oleh sebab itu, Gedung Putih memang tengah berada di bawah tekanan untuk meningkatkan sumbangan vaksin COVID-19 ke negara lain.

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *