Ilustrasi vaksin corona AstraZeneca. Foto: Christof STACHE / AFP

Pemerintah Denmark pada Senin (31/5), meminta lembaga kesehatan mempertimbangkan kembali keputusan agar vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson dipakai dalam program vaksinasi nasional.

Sebelumnya, Denmark memutuskan untuk menyetop penggunaan kedua vaksin COVID-19 itu akibat potensi risiko pembekuan darah yang langka namun serius.

Permintaan tersebut dilatarbelakangi oleh keterlambatan program vaksinasi selama dua pekan hingga bulan September akibat kurangnya pengiriman dosis vaksin Moderna dan CureVac.

“Kita semakin jauh lagi ke dalam epidemi ini, dan vaksin dari Johnson & Johnson dan AstraZeneca kini telah digunakan di Eropa selama beberapa lama,” kata Menteri Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke, dikutip dari Reuters.

“Terdapat pangkalan data di seluruh dunia yang besar untuk menilai efek serta efek samping dari kedua vaksin tersebut,” lanjut Heunicke.

Pada awal Mei ini, Badan Kesehatan Denmark mengungkapkan bahwa manfaat penggunaan vaksin COVID-19 tidak lebih besar daripada risiko menyebabkan efek samping buruk pada si penerima vaksin.

Dengan menyetop penggunaan vaksin Johnson & Johnson, program vaksinasi Denmark molor hingga empat pekan lamanya.

Per Senin (31/5) ini, sebanyak 21 persen dari jumlah penduduk Denmark telah divaksinasi COVID-19.

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *