Foto Penulis

Kita semua yang masih berhati nurani dan berprinsip pada sila Pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab” tentulah tak menginginkan adanya individu atau kelompok yang mencoba mengail di air keruh, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, atau bereksperimen secara kriminal dengan cara menipu publik, menyalahalamatkan dana atau barang yang diperoleh dan digali dari rakyat, menggelapkannya untuk memuaskan naluri kebinatangan, dan mengkorupnya untuk memenuhi ambisi kleptokrasinya.

Ambisi kleptokrasi merupakan keinginan meledak-ledak untuk mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak bermoral, mengkhianati amanat, menodai sumpah jabatan, dan melanggar norma agama dan hukum. Ketika ambisi ini diwujudkan dalam perbuatan, maka apa yang dilakukan ini tergolong sebagai potret perbuatan berklas “maling kundang”.

Kita memang menginginkan setiap komponen bangsa ini ikut berjuang memikirkan, bersimpati, dan berempati terhadap derita rakyat yang sedang diuji oleh ragam kesulitan, tetapi kita juga tak menginginkan adanya individu atau kelompok dan lembaga yang memanfaatkannya di jalur yang salah. Kita tak menginginkan ada “tikus-tikus” bermental serakah harta gentayangan di balik kesulitan rakyat.

Jika itu yang terjadi, maka ujian yang menimpa negeri ini, mulai dari ujian terenggutnya nyawa, keluarga yang tercabik, sumber pendapatan yang melayang, kelaparan yang menyiksa, ragam penyakit yang merajam, gamangnya masa depan, hingga “tikus-tikus” yang menyerang dan menggerogotinya.

Peringatan yang ditujukan terhadap mentalitas manusia Indonesia itu sangatlah tepat, mengingat secara umum, seperti yang ditulis oleh budayawan Moechtar Lubis (1987), bahwa salah satu mentalitas buruk dan akut manusia Indonesia yang wajib diwaspadai dan bisa membahayakan kelangsungan hidup masyarakat normal adalah mentalitas menerabas dan hipokrit.

Namanya juga mentalitas yang sudah akut, maka setiap pergerakannya layak untuk dibaca. Apalagi kita sudah sering kali menghadapi kasus bertemakan penyalahgunaan amanat atau penyimpangan dana kemanusiaan yang digalang setiap kali terjadi bencana.

ilustrasi pixabay.com

Sangat disayangkan sikap-sikap atau perilaku sebagian segmen lain manusia negeri ini yang masih mempertahankan jiwa oportunisme dan kleptokratismenya, suatu bentuk perilaku petualangan di tengah bencana sambil menebar hasrat nafsu menggerogoti hak-hak korban. Setiap bentuk penggerogotan terhadap hak-hak korban ini juga dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang serius.

Dalam Pasal 25 ayat (1) UDHR (Universal Declaration of Human Rights) Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan, dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya.

Berpijak pada Deklarasi HAM Universal tersebut jelas disebutkan posisi rakyat saat ini sedang menghadapi banyak ujian di luar kemampuannya. Rakyat berhak untuk dipenuhi hak atas pangan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan lain sebagainya oleh negara.

Jika usaha mulia negara itu masih juga dinodai oleh “tikus-tikus” yang bereksperimen mengail keuntungan di balik musibah, maka “tikus-tikus” ini layak ditempatkan sebagai pelaku kejahatan melawan kemanusiaan (crime againt humanity) Karena apa yang dilakukannya telah menggerogoti dan menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat.

Sementara itu, bagi kita yang lalai, apalagi sampai membiarkan munculnya “tikus-tikus” juga layak digolongkan ikut mendukung kejahatan yang disebar kaum tikus itu. Albert Enstein pernah mengkritik kita, bahwa kejahatan terbesar dan terberat bukanlah dilakukan oleh penjahatnya, tetapi oleh kita yang membiarkan terjadinya kejahatan di masyarakat. Begitu manusia memilih jalan hidup sebagai seonggok individualisme, maka sejak saat itulah manusia menggelincirkan dirinya dalam jagad kejahatan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa (kaum), sehingga bangsa itu mengubah nasibnya sendiri” (QS, 13: 11). Ayat ini dipahami cendekiawan muslim kenamaan Baqir Al-Sadr, bahwa manusia adalah pelaku yang menciptakan sejarah. Gerak sejarah adalah gerak menuju atau tujuan. Tujuan tersebut berada di hadapan manusia, berada “di masa depan”. Sedangkan masa depan yang bertujuan harus tergambar dalam benak manusia. Dengan demikian, benak manusia merupakan langkah pertama dari gerak sejarah, atau dengan kata lain, “dari terjadinya perubahan”

Masa depan negara ini sangatlah ditentukan oleh perbuatan manusianya. Jika sebagai pelaku sejarah manusia punya obsesi untuk memperbaharui negeri ini, maka di dalam dirinya harus dikuatkan etos juang, etos kerja, dan gerak pengawasan strategis terhadap segala bentuk perbuatan yang menggunakan baju “amanat rakyat”. Kita tak menginginkan rakyat yang sudah menderita itu akan semakin menderita akibat kekhilafan dan kebodohan kita yang secara tak langsung membuka kran lahirnya “tikus-tikus” yang berdampak lebih luas terhadap keniscayaan terjadinya perubahan.

**Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Universitas Islam Malang dan penulis buku

Dilansir dari : kumparan.com

By

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *